Senin, 19 Desember 2011

jenis-jenis ancaman pada jaringan komputer

Jenis-jenis Ancaman pada jaringan komputer
Berikut   ini   akan   dijelaskan   beberapa   tipe-tipe   serangan   yang   dapat   dilancarkan   oleh   pihak-pihak tertentu terhadap sebuah jaringan komputer:

a.   DOS/DDOS
Denial of Services  dan  Distributed Denial of Services  adalah sebuah metode serangan yang bertujuan   untuk   menghabiskan   sumber   daya   sebuah   peralatan   jaringan   komputer   sehingga layanan jaringan komputer menjadi terganggu.
Salah satu bentuk serangan ini adalah 'SYN  Flood Attack', yang mengandalkan kelemahan dalam   sistem  'three-way-handshake'.   'Three-way-handshake'   adalah   proses   awal   dalam melakukan koneksi dengan protokol TCP. Proses ini dimulai dengan pihak klien mengirimkan paket dengan tanda SYN. Lalu kemudian pihak server akan menjawab dengan mengirimkan paket   dengan   tanda   SYN   dan  ACK.   Terakhir,   pihak   klien   akan   mengirimkan   paket  ACK.
Setelah itu, koneksi akan dinyatakan terbuka, sampai salah satu pihak mengirimkan paket FIN atau paket RST atau terjadi  connection time-out. Dalam proses 'three-way-handshake',  selain terjadi   inisiasi   koneksi,   juga   terjadi   pertukaran   data-data   parameter   yang   dibutuhkan   agar koneksi yang sedang dibuat dalam berjalan dengan baik.
Dalam serangan ini, sebuah host akan menerima paket inisiasi koneksi (Paket dengan flag SYN) dalam jumlah yang sangat banyak secara terus menerus. Akibatnya host yang sedang diserang akan melakukan alokasi memori yang akan digunakan untuk menerima koneksi tersebut dan karena paket inisiasi terus-menerus diterima maka ruang memori yang dapat digunakan untuk menerima   koneksi   akan   habis.   Karena   semua   ruang   memori   yang   dapat   digunakan   untuk menerima koneksi sudah habis, maka ketika ada permintaan baru untuk melakukan inisiasi koneksi,  host  ini tidak dapat melakukan alokasi memori sehingga permintaan baru ini tidak dapat   dilayani   oleh  host  ini.  Untuk   menghindari   pelacakan,   biasanya   paket   serangan   yang dikirimkan memiliki alamat IP sumber yang dipalsukan. Untuk menghadapi serangan seperti ini,   sistem   operasi   –   sistem   operasi     modern   telah   mengimplementasikan   metode-metode penanganan, antara lain :
·      Micro-blocks.  Ketika   ada   sebuah  host  menerima   paket   inisiasi,   maka  host  akan mengalokasikan ruang memori yang sangat kecil, sehingga host tersebut bisa menerima koneksi   lebih  banyak.  Diharapkan   ruang  memori   dapat   menampung  semua   koneksi yang   dikirimkan,   sampai   terjadi  connection-time-out,   dimana   koneksi-koneksi   yang stale, yaitu koneksi yang tidak menyelesaikan proses 'three-way-handshake' atau sudah lama tidak ada transaksi data, akan dihapuskan dari memori dan memberikan ruang bagi koneksi-koneksi baru. Metode ini tidak terlalu efektif karena bergantung pada kecepatan serangan   dilakukan,   apabila   ternyata   kecepatan   paket   serangan   datang   lebih   cepat daripada lamanya waktu yang perlu ditunggu agar terjadi   connection-time-out  pada paket-paket yang stale, make ruang memori yang dapat dialokasikan akan tetap habis.
·      SYN Cookies. Ketika menerima paket inisiasi, host penerima akan mengirimkan paket tantangan   yang   harus   dijawab   pengirim,   sebelum  host  penerima   mengalokasikan memori yang dibutuhkan. Tantangan yang diberikan adalah berupa paket SYN-ACK dengan nomor urut khusus yang merupakan hasil dari fungsi hash dengan input alamat IP pengirim, nomor  port, dll. Jawaban dari pengirim akan mengandung nomor urut tersebut.   Tetapi   untuk   melakukan   perhitungan  hash  membutuhkan   sumber-daya komputasi   yang   cukup   besar,   sehingga   banyak   server-server   yang   aplikasinya membutuhkan kemampuan komputasi tinggi tidak mempergunakan metode ini. Metode ini merubah waktu peng-alokasian memori, yang tadinya pada awal dari proses 'three-way-handshake', menjadi diakhir dari proses tersebut. (notes: pada standard TCP/IP yang baru, ditentukan bahwa diperlukan cara yang lebih baik untuk menentukan urut  paket, sehingga sulit untuk ditebak. Jadi kemungkinan secara default, metode ini akan digunakan pada seluruh peralatan jaringan komputer atau sistem operasi yang ada).
·      RST   Cookies.  Mirip   dengan  SYN   Cookies,   hanya   tantangan   yang   dikirimkan  host penerima  ke   pengirim   adalah   sebuah   paket   yang   salah.   Apabila   pengirim   adalah pengirim  yang valid, maka  pengirim  akan mengirimkan paket RST lalu mengulang kembali   koneksi.   Ketika   penerima   menerima   paket   RST,  host  tersebut   tahu   bahwa pengirim   adalah   valid   dan   akan   menerima   koneksi   dari   pengirim   dengan   normal. Karena ada masalah dengan implementasi lapisan TCP/IP, metode ini kemungkinan tidak kompatibel dengan beberapa sistem operasi. Metode ini merubah waktu peng-alokasian memori, yang tadinya pada awal dari proses 'three-way-handshake', menjadi diakhir dari proses tersebut.
Bentuk lain dari serangan DOS adalah 'Smurf Attack' yang mempergunakan paket ping request. Dalam   melakukan   penyerangan,   penyerang   akan   mengirimkan   paket-paket   ping  request  ke banyak host dengan merubah alamat IP sumber menjadi alamat host yang akan diserang. Host-host yang menerima paket ping request tersebut akan mengirimkan paket balasan ke alamat IP host korban serangan. Untuk serangan dapat mengganggu sistem korban, host yang menjawab paket ping  request  harus cukup banyak. Oleh karena itu, biasanya paket ping  request  akan dikirimkan ke alamat  broadcast  dari sebuah kelompok jaringan komputer, sehingga  host-host pada kelompok jaringan komputer tersebut secara otomatis akan menjawab paket tersebut.
DOS juga dapat dilakukan dengan cara mengirimkan permintaan layanan yang diberikan oleh sebuah host secara berlebihan atau terus menerus. Tujuan dari serangan model ini adalah untuk membuat  host  menjadi terlalu sibuk atau kehabisan sumber daya komputasi sehingga tidak dapat melayani permintaan-permintaan lainnya.
Perkembangan lanjutan dari DOS adalah DDOS, dimana host yang terlibat dalam serangan lebih dari satu dan tersebar di banyak tempat. Banyaknya  host  yang terlibat dalam serangan akan meningkatkan efek serangan dan mempersulit pihak yang diserang untuk mempertahankan diri ataupun melakukan pelacakan asal serangan. Pada banyak kejadian, host-host yang terlibat dalam serangan, tidak semuanya sadar bahwa mereka terlibat dalam sebuah serangan DDOS.
Host-host  tersebut telah disusupi terlebih dahulu oleh penyerang, sehingga penyerang dapat mempergunakan host tersebut untuk melakukan serangan. Penyusupan dapat dilakukan dengan cara mengirimkan trojan atau worm ke banyak host.

b.  Packet Sniffing
Packet Sniffing adalah sebuah metode serangan dengan cara mendengarkan seluruh paket yang lewat pada sebuah media komunikasi, baik itu media kabel maupun radio. Setelah paket-paket yang lewat itu didapatkan, paket-paket tersebut kemudian disusun ulang sehingga data yang dikirimkan oleh sebuah pihak dapat dicuri oleh pihak yang tidak berwenang.
Hal ini dapat dilakukan karena pada dasarnya semua koneksi  ethernet  adalah koneksi yang bersifat broadcast, di mana semua host dalam sebuah kelompok jaringan akan menerima paket yang dikirimkan oleh sebuah host. Pada keadaan normal, hanya host yang menjadi tujuan paket yang akan memproses paket tersebut sedangkan  host  yang lainnya akan mengacuhkan paket-paket tersebut. Namun pada keadaan tertentu, sebuah host bisa merubah konfigurasi sehingga host tersebut akan memproses semua paket yang dikirimkan oleh host lainnya.
Cukup sulit untuk melindungi diri dari gangguan ini karena sifat dari  packet sniffing  yang merupakan   metode   pasif   (pihak   penyerang   tidak   perlu   melakukan   apapun,   hanya   perlu mendengar saja). Namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini, yaitu:
·      Secara   rutin   melakukan   pemeriksaan   apakah   ada  host  di   jaringan   kita   yang   sedang dalam mode  promiscuous, yaitu sebuah mode dimana  host  tersebut akan memproses semua paket yang diterima dari media fisik. Akan tetapi hal ini hanya akan melindungi diri kita terhadap packet sniffer yang berada pada satu kelompok jaringan dengan kita. Penyerang   yang   melakukan  sniffing  dari   luar   jaringan   komputer   kita   tidak   akan terdeteksi dengan menggunakan metode ini.
·      Mempergunakan   SSL   atau   TLS   dalam   melakukan   pengiriman   data.   Ini   tidak   akan mencegah packet sniffer untuk mencuri paket yang dikirimkan, akan tetapi paket-paket yang dicuri tidak bisa dipergunakan karena dikirimkan dengan menggunakan format yang terenkripsi.
·      Melakukan   koneksi   VPN,   sehingga   tetap   bisa   mempergunakan   aplikasi   yang   tidak mendukung SSL atau TLS dengan aman.
Packet Sniffing sebagai tools pengelola jaringan
Sebenarnya selain sebagai menjadi alat untuk melakukan kejahatan,  packet sniffer  juga bisa
digunakan sebagai alat pertahanan. Dengan melakukan analisa paket-paket yang melalui sebuah media   jaringan   komputer,   pengelola   dapat   mengetahui   apabila   ada   sebuah  host  yang mengirimkan paket-paket yang tidak normal, misalnya karena terinfeksi virus. Sebuah IDS juga pada   dasarnya   adalah   sebuah  packet   sniffer  yang   bertugas   untuk   mencari  host  yang mengirimkan paket-paket yang berbahaya bagi keamanan. Selain itu  packet sniffer  juga bisa menjadi  alat   untuk  melakukan  analisa  permasalahan  yang  sedang  dihadapi   sebuah  jaringan komputer. Misalkan ketika sebuah  host  tidak dapat  berhubungan dengan  host  lainnya yang berada pada kelompok jaringan yang berbeda, maka dengan packet sniffer, pengelola jaringan komputer dapat melakukan penelusuran dimana permasalahan koneksi itu terletak.

c.    IP Spoofing
IP Spoofing adalah sebuah model serangan yang bertujuan untuk menipu seseorang. Serangan ini  dilakukan   dengan   cara   mengubah   alamat   asal   sebuah   paket,   sehingga   dapat   melewati perlindungan  firewall  dan menipu  host  penerima data. Hal ini dapat dilakukan karena pada dasarnya alamat IP asal sebuah paket dituliskan oleh sistem operasi  host  yang mengirimkan paket tersebut. Dengan melakukan  raw-socket-programming, seseorang dapat menuliskan isi paket yang akan dikirimkan setiap bit-nya sehingga untuk melakukan pemalsuan data dapat dilakukan dengan mudah.
Salah satu bentuk serangan yang memanfaatkan metode IP Spoofing adalah 'man-in-the-middle-attack'. Pada serangan ini, penyerang akan berperan sebagai orang ditengah antara dua pihak yang  sedang   berkomunikasi.   Misalkan   ada   dua   pihak   yaitu   pihak  A  dan   pihak   B   lalu   ada penyerang yaitu C. Setiap kali A mengirimkan data ke B, data tersebut akan dicegat oleh C, lalu C akan mengirimkan data buatannya sendiri ke B, dengan menyamar sebagi A. Paket balasan dari B ke A juga dicegat oleh C yang kemudian kembali mengirimkan data 'balasan' buatannya sendiri ke A. Dengan cara ini, C akan mendapatkan seluruh data yang dikirimkan antara A dan B, tanpa diketahui oleh A maupun C.
Untuk mengatasi serangan yang berdasarkan  IP Spoofing, sebuah sistem operasi harus dapat
memberikan nomor-urut yang acak ketika menjawab inisiasi koneksi dari sebuah host. Dengan nomor urut paket yang acak, akan sangat sulit bagi seorang penyerang untuk dapat melakukan pembajakan transmisi data.
Selain   itu,   untuk   mengatasi   model   serangan   'man-in-the-middle-attack',   perlu   ada   sebuah metode untuk melakukan otentikasi  host  yang kita hubungi. Otentikasi dapat berupa  digital-certificate yang eksklusif dimiliki oleh host tersebut.
Konfigurasi firewall yang tepat juga dapat meningkatkan kemampuan jaringan komputer dalam menghadapi IP Spoofing. Firewall harus dibuat agar dapat menolak paket-paket dengan alamat IP   sumber   jaringan   internal   yang   masuk   dari  interface  yang   terhubung   dengan   jaringan eksternal.

d.  DNS Forgery
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk mencuri data-data penting orang lain adalah dengan cara melakukan penipuan. Salah satu bentuk penipuan   yang bisa dilakukan adalah penipuan data-data DNS. DNS adalah sebuah sistem yang akan menterjemahkan nama sebuah   situs   atau  host  menjadi   alamat   IP  situs   atau  host  tersebut.   Cara   kerja   DNS   cukup sederhana, yaitu sebuah host mengirimkan paket (biasanya dengan tipe UDP) yang pada header paket tersebut berisikan alamat host penanya, alamat DNS resolver, pertanyaan yang diinginkan serta sebuah nomor identitas. DNS resolver  akan mengirimkan paket jawaban yang sesuai ke penanya. Pada paket jawaban tersebut terdapat nomor identitas, yang dapat dicocokkan oleh penanya dengan nomor identitas yang dikirimnya. Oleh karena cara kerja yang sederhana dan tidak   adanya   metode   otentikasi   dalam   sistem   komunikasi   dengan   paket   UDP,   maka   sangatmemungkinkan seseorang untuk berpura-pura menjadi DNS  resolver  dan mengirimkan paket jawaban palsu dengan nomor identitas yang sesuai ke penanya sebelum paket jawaban dari DNS resolver resmi diterima oleh penanya. Dengan cara ini, seorang penyerang dapat dengan mudah mengarahkan seorang pengguna untuk melakukan akses ke sebuah layanan palsu tanpa diketahui pengguna tersebut. Sebagai contoh, seorang penyerang dapat mengarahkan seorang pengguna  Internet   Banking  untuk   melakukan   akses   ke   situs  Internet   Banking  palsu   yang dibuatnya untuk mendapatkan data-data pribadi dan kartu kredit pengguna tersebut.
Untuk dapat melakukan gangguan dengan memalsukan data DNS, seseorang membutuhkan
Informasi-informasi di bawah ini :
·      Nomor identitas pertanyaan (16 bit)
·      Port tujuan pertanyaan
·      Alamat IP DNS resolver
·      Informasi yang ditanyakan
·      Waktu pertanyaan.
Pada beberapa implementasi sistem operasi, informasi diatas yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan penipuan data DNS bisa didapatkan. Kunci dari serangan tipe ini adalah, jawaban yang   diberikan   DNS  resolver  palsu   harus   diterima   oleh   penanya   sebelum   jawaban   yang sebenarnya diterima, kecuali penyerang dapat memastikan bahwa penanya tidak akan menerima jawaban yang sebenarnya dari DNS resolver yang resmi.

e.   DNS Cache Poisoning
Bentuk lain serangan dengan menggunakan DNS adalah  DNS Cache Poisoning. Serangan ini memanfaatkan cache dari setiap server DNS yang merupakan tempat penyimpanan sementara data-data domain yang bukan tanggung jawab server DNS tersebut. Sebagai contoh, sebuah organisasi 'X' memiliki server DNS (ns.x.org) yang menyimpan data mengenai domain 'x.org'.
Setiap   komputer   pada   organisasi   'X'   akan   bertanya   pada   server   'ns.x.org'   setiap   kali   akan melakukan   akses   Internet.   Setiap   kali   server   ns.x.org   menerima   pertanyaan   diluar   domain 'x.org', server tersebut akan bertanya pada pihak otoritas domain. Setelah mendapatkan jawaban yang dibutuhkan, jawaban tersebut akan disimpan dalam  cache, sehingga jika ada pertanyaan yang sama, server 'ns.x.org' dapat langsung memberikan jawaban yang benar. Dengan tahapan-tahapan   tertentu,   seorang   penyerang   dapat   mengirimkan   data-data   palsu   mengenai   sebuah domain yang kemudian akan disimpan di  cache  sebuah server DNS, sehingga apabila server tersebut menerima pertanyaan mengenai domain tersebut, server akan memberikan jawaban yang salah. Patut dicatat, bahwa dalam serangan ini, data asli server DNS tidak mengalami perubahan sedikitpun. Perubahan data hanya terjadi pada cache server DNS tersebut.
Cara yang paling efektif dalam menghadapi serangan yang merubah DNS server adalah dengan melakukan otentikasi  host  yang akan kita hubungi. Model otentikasi yang banyak digunakan saat ini adalah dengan mempergunakan digital certificate. Dengan digital certificate, seseorang dapat dengan yakin bahwa host yang dia akses adalah host yang sebenarnya.




sumber:

0 komentar:

Posting Komentar