Kamis, 09 Februari 2012

new cerpend..


Untuk Bu Dian

Suatu hari di sebuah sekolah, suasana begitu ramai. Terlihat Pak Yan (Guru Bahasa Inggris) di kanofi yang sedang memberikan pengarahan kepada lima anak didiknya yang akan mengikuti lomba Bahasa Inggris.
“Waktu kita tinggal satu minggu lagi anak-anak, mau tidak mau kita harus ekstra kerja keras. Mulai besok kita latihan, langsung ke plot masing-masing, Ayu, Asti, dan Anggra di LCC, langsung menemui Bu Riri, sedangkan Ana dan Adi di story telling menemui Bu Rina.”
 “Baik, Pak!” jawab Ayu, Asti, Anggra, Ana, dan Adi.
Selesai pengarahan mereka semua pulang. Ketika mau pulang tiba-tiba terlihat Bu Dian berjalan dari arah timur.
“An, mau ke mana?” tanya Bu Dian.
 “Ini Bu mau pulang, dospundi Bu?” jawab Ana.
“Begini An, ini ada lomba karya tulis lagi, tetapi waktunya mepet sekali, hanya satu minggu. Bagaimana ini enaknya ya An, masalahnya sekolah kita tidak ada ekskul KIR, terus terang ibu bingung An cari siswa, kamu sama Adi sudah ikut di Bahasa Inggris. Kira-kira siapa ya An, kalau Ame sendiri belum mungkin An. .  Hmbb. .,” kata Bu Dian sambil menghela nafas panjang.
Sejenak Ana terdiam, kemudian ia mengatakan bahwa ia bersedia membantu persiapan lomba karya tulis itu. Bu Dian pun sejenak juga ikut terdiam, kemudian beliau mempunyai usulan untuk tetap mengikutkan Ana dan Adi di lomba tersebut dengan meminta pertimbangan Bu Rina sebagai pembimbing mereka.
Hari demi hari telah dilalui, kekhawatiran Ana pun akhirnya terjadi, ketika dia diminta untuk memilih salah satu diantara kedua kompetisi yang sama-sama berat bagi Ana untuk meninggalkan salah satu.
Ketika Ana duduk sendiri di depan mushola, Bu Rina menghampiri Ana.
“Na, ibu sudah dengar semuanya, apa kamu yakin mau menjalani kedua-duanya? Bukannya ibu tidak boleh, tapi, ibu kasihan dengan kamu. Tolong An, pilih salah satu ya Nak,” kata Bu Rina.
“Sebelumnya saya mohon maaf Bu, terus terang saya masih bingung Bu,” jawab Ana dengan begitu beratnya.
“Ya sudah, Ibu tidak melarang tetapi ibu hanya menyarankan, yang penting kamu bisa bertanggungjawab dan membagi waktu,” jawab Bu Rina sedikit kecewa.
Bu Rina meninggalkan Ana, kemudian Anggra, Adi, Asti, dan Ayu datang.
“Kamu kenapa? Masih masalah kemarin? Ayolah An, jangan nangis. Kamu harus bisa nentuin pilihan. Kami yakin dan percaya kamu bisa An menjalani keduanya, udah terlanjur nentuin pilihan mau gak mau harus dijalani,” kata Ayu berusaha menyemangati Ana.
“Aku bingung teman-teman, terus terang kalau aku suruh milih aku lebih pilih yang lomba karya tulis itu, aku lebih nyaman di lomba itu, sedangkan Bahasa Inggris aku butuh waktu lama buat mahaminya. Awalnya ku udah mengundurkan diri dari lomba Bahasa Inggris ini, tapi ku malah dimarahin Pak Yan. Ya sudahlah aku terima. Di satu sisi aku harus ngejalanin apa yang sudah aku pilih, tapi disisi lain aku ingin memberikan sesuatu yang terakhir untuk Bu Dian, kesempatan terakhirku teman,” jawab Ana sambil meneteskan air mata.  
“An, kamu kuat, kamu bisa, dan kami yakin kamu mampu. Kami ada di sini An dukung kamu, kami siap bantu kamu,” kata Anggra, Adi, Ayu, dan Asti berusaha menenangkan Ana sambil menegelus bahu Ana.
 Tiba-tiba Bu Dian datang, kemudian duduk di samping Ana, dengan penuh kasih sayang Bu Dian memeluk Ana dan berkata, “Nak, yang sabar ya, sebelumnya ibu minta maaf, terus terang ibu juga bingung Nak, sudah nggak papa jangan nangis, kan ada Ame yang bantu, kamu konsen dengan lomba Bahasa Inggris kamu dulu. Ibu akan bantu persiapan kamu di Bahasa Inggris juga. (sejenak Bu Dian terdiam, sambil membelai rambut Ana) Terus terang ibu lakukan smua ini buat kamu An, ibu sayang sama kamu, ibu gak tega lihat kamu didua lomba terakhir kemarin.”
“Bu, Ana minta maaf, Ana hanya ingin mengobati rasa trauma Ana didua lomba  yang terakhir kemarin Bu, Ana ingin memberikan sesuatu yang Ana bisa untuk ibu. Ana sayang ibu,” jawab Ana masih menangis.
Bu Dian mencium kedua pipi Ana, sambil mengelus bahu kanan Ana, beliau mengatakan bahwa Ana pasti bisa melalui ini semua dan beliau akan membantu Ana. Akhirnya Ana diizinkan mengikuti keduanya, karena dikedua lomba itu Ana sama-sama dibutuhkan. Meski Bu Rina agak kecewa, tetapi Bu Rina memahami posisi Ana.
Dibantu Bu Rina, Bu Dian, beserta sahabat-sahabatnya, Ana menjalani latihan dengan ekstra kerja keras, dengan satu keyakinan akan berbuah manis. Dari pagi sampai malam latihan dan bereksperimen ditunggui Bu Rina juga. Sabtu sore Bu Dian dan Bu Rina sepakat bahwa pagi sampai jam empat sore pembinaan Bu Dian terlebih dahulu, kemudian dari jam empat sampai selesai latihan story telling.
Minggu pagi, Ana, Adi, dan Ame, serta Ayu (sahabat dekat Ana yang selalu setia menemani Ana) memulai petualangannya bereksperimen dan mencari data ke penampungan sampah di kota tersebut. Setelah itu mereka kembali ke sekolahan untuk melanjutkan eksperimen. Bersangit-sangit ria ya begitulah mereka menyebutnya. Sampai Bu Dian datang ke sekolahan dan membimbing mereka dalam bereksperimen dan memberikan banyak sekali nasihat.
Tak terasa hari sudah sore, Bu Rina datang, dan kini giliran Ana dan Adi latihan untuk yang terakhir kalinya sebelum keesokan harinya mereka bertempur di medan perang selama empat hari.
Dengan penuh kesabaran Bu Rina membimbing Ana dan Adi, Bu Dian tersenyum melihat Ana dan Adi yang sedang latihan di bawah pohon beringin besar disaksikan mentari yang kian bersembunyi di balik awan. Semua ini juga tak lepas dari bantuan Bu Dian yang setia mendampingi latihan Ana dan Adi.
Tibalah hari pelaksanaan lomba Bahasa Inggris. Hari yang begitu menengangkan, latihan selama ini dipertaruhkan dalam waktu kurang dari 3 jam. Alhamdulillah meski tidak mendapatkan juara akan tetapi hasilnya tidak mengecewakan, kurang sedikit lagi bisa masuk final.
Perjuangan Ana dan Adi belum selesai lomba karya tulis, Bu Dian, dan Ame telah menunggu mereka berdua untuk melanjutkan perjuangan. Masih kembali mencari data untuk mendukung karya tulis mereka. Mencari data ke tempat yang sangat jauh dari perkotaan dan belum pernah mereka datangi, jalannya masih berupa jalan setapak. Hanya bermodal niat dan nekat. Alhamdulillah akhirnya mendapatkan data yang mereka butuhkan.
Waktu pelaksanaan lomba kurang 3 hari, kembali bekerja dari pagi sampai pagi demi sebuah tujuan. Sampai-sampai dibela-belain menginap di rumah Bu Dian. Dari sore sampai sore. Semangat Bu Dian yang membuat Ana, Adi, dan Ame semakin bersemangat untuk menjalani lomba ini. Sungguh sesuatu yang tak kan pernah bisa dilupakan.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. 19 Juli, kerja keras mereka dipertaruhkan. Ternyata tempatnya sama dengan lomba karya tulis tahun lalu. Di tempat ini mereka pernah mengukir sejarah manis dan sejarah pahit. Masih tampak jelas memori itu.
Kembali Bu Dian mengingatkan.
“Anak-anakku, yang terpenting adalah kalian berusaha semaksimal mungkin, jangan pernah tanamkan dipikiran kalian, saya harus juara. Jangan sekali-kali berpikiran seperti itu. Itu sudah menjadi urusan Tuhan, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Yakinlah! Tuhan akan memberikan upah sesuai hasi jerih payah kita.”
Selesai sholat Magrib, Ame, Ana, dan Adi berkumpul di teras depan, kembali latihan presentasi. Bu Dian duduk di kursi dan memandangi mereka dengan tersenyum. Kemudian menghampiri mereka.
“Nak, sudah siap semuanya kan? Melihat judul dari rival-rival kalian sepertinya ini agak berat, tapi jangan patah semangat, masih ada waktu, pelajari makalahnya baik-baik, diulang-ulang lagi, jangan sampai menyimpang dari makalah. Apa yang kalian tulis harus kalian pertanggungjawabkan, berdoa terus ya Nak,” kata Bu Dian dengan tersenyum.
Dengan penuh harap mereka semua bersemangat, walaupun tidak tahu apa yang terjadi nanti.
“Ini kesempatan terakhirku untuk mengobati rasa trumaku, kesempatan terakhirku dibimbing Bu Dian, setelah sekian lama aku bekerja bersama beliau, aku. . aku ingin maksimal di sini, nasib kita dipertaruhakan besok pagi,” kata Ana berusaha meyakinkan hatinya.
“Mbak Ana, kita pasti bisa mbak, ingat mbak kita harus semangat, masih ada waktu,” sahut  Ame.
“Iya, Na! Kita pasti bisa, semangat. Kesempatan terakhirku dik ma Mbak Ana di lomba ini. Ya kan An?” kata Adi sambil menepuk bahu Ana.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, suasanapun berubah menjadi dingin. Ame, Ana, dan Adi memutuskan untuk istirahat sebentar, dan membeli mie seduh. Bu Dian hanya tersenyum ketika mereka tawari mie.
Hari sudah semakin larut, Bu Dian menyuruh mereka bertiga untuk tidur, supaya keesokan harinya bisa fresh, mereka semua bergegas untuk tidur. Pukul 02.30 hp Ana berbunyi, ternyata Bu Dian membangunkan Ana. Beliau hafal dengan kebiasaan Ana yang selalu bangun malam untuk sholat malam. Meskipun keyakinan Bu Dian dengan Ana berbeda tapi itu tak menjadikan masalah, justru Bu Dian selalu mengingatkan Ana untuk sholat.
Tibalah saat yang paling mendebarkan, yaitu presentasi. Sebelum presentasi dimulai Bu Dian kembali berpesan.
“Semangat ya Nak, perjuangan kalian dipertaruhkan selama 10 menit, apapun yang terjadi nanti jangan sampai menyimpang dari makalah, tenang, berdoa dulu. Jangan terobsesi menjadi juara, yang penting berusaha. Mari kita berdoa dulu.”
Ana, Adi, dan Ame tersenyum dan kemudian mereka semua berdoa. Ketika mengambil nomor undian ternyata dapat nomor undi 2. Tepat pukul 08.00 presentasi dimulai.
Pukul 08.30, Ana, Ame, Adi, dan Bu Dian memasuki ruang prsentasi dengan langkah yang pasti dan penuh harap. Di dalam ruangan ada 4 dewan yuri. Presentasi dimulai.
“Assalamu’alaikum wr.wb. Ibu-ibu dewan yuri dan hadirin yang kami hormati Perkenalkanlah kami regu Karya Ilmiah dari SMK .. . . . ”
            Di tengah-tengah presentasi ternyata ada kendala, slide menjadi berhenti dan hilang karena laptop yang digunakan ternyata terinfeksi virus, spontan Ana kaget, tampak di belakang wajah Bu Dian menjadi cemas,  alhamdulillah Ana masih hafal dengan slide berikutnya, dan alhamdulillahnya lagi Ame membawa backup-an file presentasi yang kedua. Presentasi terus berjalan hingga waktu berakhir. Sampai digedok 2 kali tapi Ana masih meneruskan presentasi dengan tenangnya.
            Tibalah di sesi pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan bisa dijawab dengan tepat, meskipun ada satu dewan yuri yang membantai habis-habisan, alhamdulillah apa yang ada di makalah mereka dapat mereka pertanggungjawabkan, semua tak lepas dari nasihat Bu Dian selama bimbingan.
            Sampai tibalah pada sebuah pertanyaan yang membuat Ana menangis.
            “Terima kasih, team nomor undi 2, presentasi yang bagus dan luar biasa semangat sekali. Kalau boleh tahu berapa lama adik-adik melakukan penelitian ini?” tanya salah seorang dewan yuri.
            “Terima kasih ibu, terus terang kami melakukan penelitian ini selama 1 minggu ibu, benar-benar kerja keras, dari pagi sampai pagi sampai menginap di rumah pembimbing kami ibu. .  . (tiba-tiba suara Ana menjadi pecah, dan tak tau kenapa ketika akan melanjutkan menjawab justru air mata yang jatuh membasahi pipi Ana, sejenak Ana terdiam). Mohon maaf Ibu, (sambil menghela nafas panjang dan mengusap air mata di pipinya), kami benar-benar mulai dari nol, dari mencari data hingga makalah tersebut dapat terselesaikan.”
            Ketika Ana menangis Bu Dian ikut menitihkan air mata, begitu pula dengan Ame dan Aji harap-harap cemas karena Ana menangis. Sementara ibu-ibu dewan yuri hanya tersenyum melihat Ana.
            Akhirnya selesailah perjuangan Ana, Ame, dan Adi. Keluar ruangan presentasi Ana menangis. Bu Dian dengan penuh kasih sayang menyalami ketiga anak didiknya tersebut.
            “Selamat ya Nak, yang terpenting sudah berusaha, kalian hebat, walaupun tadi ada kendala, tapi tidak apa-apa. Sekarang kita tinggal berdoa” kata Bu Dian.
            “Maafkan kami ya Bu, kami. . tidak bisa memberikan yang terbaik.” kata Ana, Ame, dan Aji dengan kepala menunduk ke bawah.
            “Tidak apa-apa. Kalian semua sudah bagus dan sudah maksimal, ini semua bukan salah kalian Nak. Ana, selamat Nak, tadi kamu presentasi tenang sekali, semua mengalir tidak ada yang dibuat-buat, kamu kuasai materinya dengan baik, bagus Nak, hari ini adalah presentasi terbaik kamu Nak. Ame dan Adi, terima kasih kalian semua bisa kompak dan saling membantu. Yang sudah ya sudah, tidak apa-apa, ibu bangga dengan kerja keras kalian sampai detik ini,” kata Bu Dian berusaha menenangkan ketiga anak didiknya yang sedang kecewa.
            “Sudah bagus, mbak, mas, ibu yakin kalian pasti masuk. Sudah mbak berhenti yang menangis.” kata seorang Ibu Guru yang duduk di sebelah Bu Dian.
            Selesai presentasi mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Kembali Ana masih menangis di kamar sendiri, menyesali apa yang telah terjadi. Kesempatan ini adalah kesempatan terakhir Ana bisa dibimbing Bu Dian, dia merasa tidak bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik. Kecewa sekali rasanya.
Sampai tibalah saat yang paling mendebarkan yaitu pengumuman. Ana, Ame, dan Adi duduk satu baris, sementara Bu Dian duduk di belakang mereka. Sampailah saat ketua dewan yuri membacakan juara.
“Juara 3 dengan total nilai 975 diraih oleh no undi. . . . . 7.”
Ana, Ame, dan Adi cemas, sudah hampir menangis, harapan mereka adalah juara 3.
“Juara 2 dengan total nilai 986 diraih oleh no undi. . . . . 3.”
Ana, Ame, dan Adi menangis, tangan mereka dingin semua, mereka beranggapan sudah tidak mungkin ini terjadi.
 “Juara 1 dengan total nilai 991 diraih oleh no undi. . . . . 2.”
“Subhanallah. .  Ini beneran??? Alhamdulillah ya Allah,” kata Ana, Ame, dan Adi sambil menangis bahagia. Sulit dipercaya.
Telihat Bu Dian di belakang tersenyum bahagia, melihat keberhasilan ketiga anak didiknya tersebut, di tengah tepuk tangan meriah dari para peserta lomba. Setelah selesai serah terima piala, mereka bertiga menghampiri Bu Dian.
“Selamat ya Nak, ini adalah buah dari kerja keras kalian, harus bersyukur, tetap rendah hati ya Nak, ibu bangga dengan kalian,” kata Bu Dian.
“Terima kasih ibu, ini semua juga karena ibu, kami bukanlah apa-apa tanpa ibu,” jawab Ana, Ame, dan Adi.
Awal menangis ujungnya manis, akhirnya janji terakhir Ana kepada Bu Dian alhamdulillah bisa terwujud, berkat Allah SWT dan dukungan orang-orang yang ada di sekitar Ana. Salah satunya adalah Bu Dian, dari beliau Ana belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang arti sebuah kerja keras, arti sebuah kegigihan, arti sebuah senyuman dan arti setetes air mata. Karena hidup adalah perjuangan. Semangat. Terima kasih Bu Dian.

                                                                                               created: kura.bermimpi@gmail.com
                                                                                                                   rabotjahgalau.

0 komentar:

Posting Komentar