S |
uatu hari di sebuah sekolah mengadakan acara pelepasan kelas IX sekaligus pengumuman lulusan tahun ini. Hari itu tepat tanggal 19 Juni 2009. Rasa deg-degan, menghantui Nita sehingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Takut tidak lulus. Tapi, Nita berusaha meyakinkan diri bahwa ia lulus. Tak terasa mentaripun mulai tersenyum di ufuk timur, terdengar suara ayam berkokok, pertanda hari sudah pagi. Nita segera bangun, sholat, mandi kemudian buru-buru ke salon, karena hari ini semua anak kelas IX wajib berdandan, bagi yang perempuan memakai kebaya, dan yang laki-laki memakai jas.
Hari sudah semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 7. Nita harus cepat-cepat ke gedung tempat diselenggarakan perpisahan tersebut. Akhirnya tibalah ia di gedung tersebut. Terlihat Nana di depan pintu masuk. ”Hai Nita, cantiknya. Hehehe. .”, kata Nana sambil tersenyum. ”Wah jangan gitu dong, aku jadi malu nih. . ”, jawab Nita. ”Lo gini kan nanti Mas Kuna bisa kecantol lho. Hehehe. . ”, goda Nana. ”Gak ki Na, biasa aj og. . ”, jawab Nita agak sedikit malu.
”Sebenarnya kalau boleh jujur, hari ini berat banget buatku, karena harus pisah dengan teman-teman terbaikku. Lebih-lebih dengan Kuna, meski dia kadang nyebelin, tapi jujur dah 3 tahun aku mendam rasa dengannya, tapi kenapa aku tak bisa mengungkapkannya, aku bener-bener gak bisa. Aku harus bisa terima ini semua.”, kata Nita dalam hati.
”Woy, Ta! Bengong aja ni, cari tempat buat duduk yuk, acara mau dimulai tu?”, kata Nana. ”Eiya. . iya. . ”, jawab Nita agak sedikit kaget.
Acara sudah hampir dimulai. Mereka semua duduk sesuai nomor tempat duduk yang telah ditentukan, yaitu urut nomor ujian. Nita masih ingat dengan jelas Arta, Angga, Dedi pada mempersembahkan tarian mereka, Nita lupa namanya tari apa. Tapi keren, melestarikan budaya juga. Hehehe. . Firman, Sya’ad, Utta, Tara, dan Tina pada ngeband.
Akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman hasil Ujian Nasional. Deg-degan banget rasanya. Tapi sayang, gak jadi diumumkan hari ini tapi besok pagi. Kecewa banget Nita dan teman-temannya.
Acarapun selesai, Nita tidak mengira ternyata Kuna menghampirinya, ”Hai, Ta! Hari ini kamu cantik banget. Tapi sayang banget ya, pengumuman hasil UN harus ditunda.” Kemudian Nita menjawab, ”Hai juga Na, hari ini kamu juga ganteng, hehehe. . Makasi banyak ya Na, iya ya sayang banget, padahal dari tadi malem Nita gak bisa tidur.” ”Oya, sama dong, Nita juga gak bisa tidur. Ta!”, kata Kuna. ”Ada apa Na?”, jawabku sambil tersenyum. ”Ta, boleh tanya sesuatu gak?”, kata Kuna agak terbata-bata. ”Ya ampun, Na . .Na, , kaya ma siapa aja. Kita kan kenal dah lama, jadi biasa aja ya. . .”, jawab Nita sambil tersenyum. ”Aku serius Ta.”, kata Kuna. ”Lha iya Na, to the point aj.”, kata Nita. ”Sebelumnya maaf banget ya Ta, aku dah ngingkarin janji kita dulu. Gini Ta, sebenere aku sayang ma kamu lebih dari seorang sahabat, Ta, aku. . .”, kata Kuna dengan sikap yang aneh.
Tiba-tiba Awan datang dan memotong pembicaraan. ”Hai, Ta. Boleh ngomong sesuatu gak?”, kata Awan. ”Boleh aja, mau ngomong apa Wan?”. jawab Nita. ”Kebetulan Kuna ada di sini, Kun, aku harap kamu mau jadi saksi ya?”, kata Awan. ”Saksi? Saksi apa Wan?”, jawab Kuna agak sedikit bingung. ”Gini, sekalian aja ya, kamu Kuna, kan temen deket aku, aku mau bilang, aku sayang ma Nita. Aku pengen kamu Ta, jadi cewek aku.”, kata Awan.
Kuna dan Nita sama-sama kaget. Sejenak mereka terdiam. Dengan berat hati Kuna menjawab, ”Iya, Wan, aku mau kok.”
”Gimana jawabannya Ta?”, kata Awan. ”Eemmmm. . . Maaf Wan aku gak bisa jawab sekarang, beri aku waktu ya, maaf banget Wan sebelumnya.”, kata Nita. ”Gak papa Ta, kamu gak harus jawab sekarang kok. Maaf ya aku harus segera pergi karena ada urusan penting banget ni. Dada Nita. Dada Kuna. Assalamu’alaikum.”, kata Awan.
”Iya gak papa kok Wan, Wa’alaikumsalam.”, jawab Kuna dan Nita. Kemudian Awan pergi. ”Na, tadi kamu mau ngomong apa?”, tanya Nita. ”Gak jadi kog Ta, lupain aja gak penting kok.”, kata Kuna agak sedikit kecewa. ”Na, aku bingung.”, kata Nita. ”Bingung kenapa? Masalah Awan tadi? Udah trima aja, toh dia anaknya baik kok, mumpung kamu ada yang nembak ni? Hehehe”, kata Kuna berusaha menyembunyikan sedihnya perasaan dia. ”Tapi, jujur na, aku nganggep dia cuma sebagai temen, gak lebih Na. Gimana dong Na, aku bener-bener bingung ni?”, kata Nita. ”Saranku, kalau kamu bener-bener gak suka sama dia, nolaknya yang halus ya, kasihan perasaannya dia.”, kata Kuna. ”Taulah Na, aku bener-bener bingung. Aku pulang duluan ya, assalamu’alaikum.”, kata Nita. ”Yang sabar ya, iya ati-ati ya, wa’alaikumsalam.”, jawab Kuna. Nita pun akhirnya pergi, Kuna bingung banget, 2 pilihan yang sulit, antara persahabatan atau cinta.
Keesokan harinya, tibalah saat pengumuman hasil UN. Detik-detik yang mendebarkan. Alhamdulillah lulus 100%. Dan tiba saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman the big ten. Juara umumnya adalah Utta.
Setelah pengumuman tiba-tiba Awan menghampiri Nita. ”Hai, Ta!”, sapa Awan. ”Hai, juga Wan.”, jawab Nita. ”Emmmmm gimana Ta jawabannya?”, kata Awan. ”Wan, sebelumnya aku makasi banget, kamu dah nganggep aku lebih dari sahabat kamu. Jujur Wan, sebenernya aku berat banget buat ngomong ma kamu. Wan maaf banget, aku gak bisa jadi cewek kamu. Aku lebih nyaman kalau kamu jadi sahabatku. Aku harap kamu ngerti Wan.”, kata Nita.
”Tapi, Ta.”, kata Awan. ”Wan, tolong hargai keputusan aku, aku yakin kamu bisa ngerti Wan.”, jawab Nita. ”Okelah Ta, lo itu yang terbaik buat aku, aku trima kok, tapi aku minta satu hal dari kamu ya.”, pinta Awan. ”Makasi banget Wan, kamu mau minta apa?”, kata Nita. ”Aku minta kita tetep temenan ya, walaupun aku gak bisa milikin kamu, tapi aku dah trima kok Ta, asal kamu seneng aku ikut seneng kok.”, kata Awan. ”Makasih banget ya Wan, pasti kita tetep berteman.”, kata Nita.
Kemudian Awan mengajak Nita salaman. Tanpa disengaja, ketika itu juga Kuna lewat, ia melihat Awan dan Nita berjabat tangan sambil tersenyum.
”Ya, udah ya Ta, aku harap kamu gak lupa ma aku. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bertemu. Makasi banyak ya ta buat semuanya.”, kata Awan. ”Iya Wan, sama-sama. Aku makasi banyak buat semuanya, aku gak bakal lupa kok ma kamu.”, kata Nita.
Kemudian Awan pergi, kemudian Kuna menghampiri Nita. ”Hai, Ta! Selamat ya kamu dah jadian ma Awan tak doain langgeng deh.”, kata Kuna. ”Jadian? Maksudnya apa Na, aku gak jadian kok sama Awan. Beneran Na.”, jawab Nita. ”Gak usah bohong deh, aku seneng kok Ta lihat kamu dah dapet cowok.”, kata Kuna. ”Ya ampun Na. . Na, . apa aku niat buat bohongin kamu.”, kata Nita. ”Lha trus yang tadi?”, kata Kuna. ”Maksudnya?”, kata Nita. ”Kok tadi pakai salaman segala, sambil senyum-senyum lagi.”, kata Kuna. ”Ooo, itu tadi adalah senyum sahabat. Kenapa kamu cemburu ya. .”, goda Nita. ”Cemburu? Enggak kok biasa aja.”, jawab Kuna.
”Na, hari ni mungkin hari terakhir kita sama-sama, aku mohon kenang selalu persahabatan kita ya, meski nanti aku tau kita akan jauh, mungkin jarang ketemu, jangan lupain aku ya Na.”, kata Nita. ”Nita, jangan ngomong gitu dong, aku janji gak bakal ngelupain kamu kok, karena. . . . . . bagi aku kamu lebih dari seorang sahabat Ta.”, kata Kuna. ”Maksudnya apa Na?”, kata Nita.
”Nita, aku sayang sama kamu dah lama Ta, sejak kita kelas 1, aku gak berani ngungkapin Ta, karena aku inget dan selalu pegang janji kita, bahwa kita gak akan menodai persahabatan kita dengan rasa cinta. Aku takut Ta, persahabatan kita bakal hancur, dan aku takut banget kehilangan kamu Ta. Mafin aku ya Ta, aku gak bisa nepatin janji kita dulu.”, kata Kuna.
Mendengar kata-kata Kuna, Nita agak kaget. ”Yang bener Na, Kuna jujur banget sebenernya aku juga sayang ma kamu lebih dari sahabat, aku juga gak berani ngungkapin, meskipun sikap kamu kadang-kadang cuek dan nyebelin. Tapi, akhir-akhir ini aku baru nyadar kalo aku bener-bener sayang kamu Na.”, kata Nita.
”Jadi, kita jadian dong Ta.”, kata Kuna. Mendengar kata-kata Kuna, Nita hanya tersenyum. ”Eh, gimana kalo jadiannya dipending dulu aja Ta, aku mau konsen ke sekolahku dulu. Mungkin setelah sma aja gimana.”, kata Kuna.
”Boleh juga tu Na, ide kamu, aku setuju, lagian aku juga mau konsen ke sekolahku dulu. Buatku saat ini, belum saatnya kita pacaran. 3 tahun besuk kalau kita jodoh pasti kita ketemu lagi kok Na, lo kita nggak jodoh, ya mungkin itulah yang terbaik buat kita berdua.”, kata Nita.
”Setuju Ta, jangan lupain aku ya, lo kamu kangen ma aku tinggal telpon atau sms aj ya. . meski jarak kita jauh, tapi aku yakin hati kita tetep dekat.”, kata Kuna sambil tersenyum.
”Oke Na, kamu baik-baik ya, sukses buat hidup kamu, kamu lo butuh bantuan aku, tinggal hubungin aku aja ya. . Jalani semua ini seperti air, meskipun batu terjal menghadang, tapi ia tetap mencari celah dan jalan untuk melauinya.”, kata Nita.
Akhirnya mereka jujur pada diri mereka masing-masing, 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Mungkin dengan cara inilah mereka mempertahankan persahabatan mereka, meski berat, tapi mereka ikhlas menjalani semua ini.
Mungkin inilah yang disebut sahabat sejati, rela mengorbankan rasa cinta demi kelanggengan sebuah persahabatan. Persahabatan adalah pengorbanan dan keikhlasan, meski berat, tapi itulah yang terbaik. Karena mereka yakin bahwa semua kan berujung indah.
Created by :
Rira_197@yahoo.co.id


0 komentar:
Posting Komentar